Saturday, October 2, 2010

Sampai ke Keabadian

Pada tahun 1974, ketika kami beruria empat belas tahun, aku dan Ralph bersahabat baik. Kami suka duduk di serambi depan rumahnya, makan biskuit dan mengobrol berjam-jam. Ralph mempunyai pacar, begitu juga aku, tetapi kupikir ia anak laki-laki yang paling baik di sekolah kami.

Beberapa tahun setelah lulus sekolah, aku menerima undangan pernikahan Ralph. Aku datang seorang diri dan Ralph sedang menunggu di luar, menerimaku dengan senyum ramah dan hangat yang sudah kukenal. Kami mengobrol sebentar, dan untuk beberapa alasan aku berbalik, kembali ke mobil dan pulang ke rumah. Kami tidak berhubungan lagi selama beberapa tahun. Pada reuni kesepuluh aku memandang, dan sekali lagi, ada senyum ramah yang kukenal. Senyum Ralph. "Apa yang terjadi padamu?" tanyaku. "Aku telah bercerai," katanya dengan mata berbinar. "Kau ke mana saja?"

"Aku telah menikah," jawabku. Kami duduk dan mengobrol sepanjang malam itu dan berjanji untuk saling menghubungi. Kami saling menghubungi dua kali dalam setahun dan saling menceritakan apa yang terjadi dalam hidup kami, tetapi tidak pernah saling berjumpa sampai delapan tahun kemudian. Pernikahanku berakhir dan akhirnya aku tinggal seorang diri di sebuah apartemen dengan putri kecilku. Ralph menelepon dan bertanya, "Apa yang bisa aku lakukan untukmu? Apakah mobilmu berjalan dengan baik? Apakah putrimu memerlukan sesuatu? Apa kau mempunyai cukup uang?"

Aku berkata padanya "Aku perlu bertemu teman lamaku. Sudah lama sekali aku tidak bertemu." Jadi, kami bertemu untuk minum bir, dan sekali lagi, duduk dan mengenang masa lalu. Jam-jam berlalu dan hal selanjutnya yang kami ketahui adalah kami diminta untuk pergi. Restorannya sudah akan tutup.

Kami bertemu kembali beberapa kali dan menemukan diri mengobrol sampai pagi. Ketika Ralph berangkat, aku memperhatikannya pergi. Suatu malam, aku mengundang Ralph makan pizza dan menonton video. Ia datang dan membawa album foto. Ketika kami melihat-lihat album, aku merasa terdorong untuk mengatakan padanya bahwa mungkin aku telah jatuh cinta padanya. Terkejut sendiri, aku pergi ke kamar mandi dan berusaha menemukan bagaimana aku bisa melarikan diri dari kamar mandi sebuah apartemen dua lantai tanpa bisa ditemukan! Aku takut aku telah menghancurkan persahabatan yang sangat berharga. Aku telah melangkah ke lubang besar.

Ketika aku kembali, Ralph duduk di sana dengan senyum lebar. "Lisa, Aku telah mencintaimu selama dua puluh tahun. Kau telah menjadi standarku untuk menilai semua perempuan lain. Aku tidak ingin kesempatan ini lewat begitu saja." Aku berkata kalau aku takut kehilangan persahabatan yang sangat berharga, yang telah kami jalani selama bertahun-tahun. Kami sepakan bahwa kami memiliki potensi yang jarang ada dan sangat berharga.

Sembilan bulan kemudian kami menikah. Terukir pada cincin pernikahan kami kata-kata "Sampai ke keabadian." Bersama dengan putriku, kami menjadi keluarga.

Suatu hari kami kebetulan melihat buku tahunan sekolah Ralph dan memutuskan untuk melihat apa yang telah kutulis untuknya di tahun-tahun itu. Memang sudah lama sekali sehingga aku lupa apa yang telah kutulis.

Kami menemukan tulisan tanganku, satu halaman penuh. Dan, di situ aku menulis: "Ralph, kau adalah laki-laki terbaik yang pernah aku jumpai. Aku tahu kita akan berteman selama hidup... malah sebenarnya, aku begitu mencintaimu sehingga aku pikir jika kita sudah besar nanti seharusnya kita MENIKAH."

Siapa sangka bahwa dua bocah yang bertahun-tahun yang lalu duduk di serambi depan sambil makan biskuit benar-benar akan menjadi teman... dan kekasih selamanya... sampai ke keabadian.


Lisa Ferris Terzich - Chicken Soup for the Romantic Soul, 2006