Monday, April 15, 2013

Hadiah Untuk Kakek


Gisa dan Gani, dua kakak-beradik yang selama tiga tahun terakhir ini hanya tinggal bersama kakek mereka. Mereka begitu belia untuk hidup dengan kerasnya di tengah luasnya kota Jakarta. 

Sewajarnya Gani adalah murid kelas 4 sekolah dasar, dan adik perempuannya Gisa adalah murid kelas 2. Namun, alasan bertahan hidup membuat mereka kehilangan kesempatan mengenakan seragam putih-merah dan belajar dalam ruang kelas. Karena begitu besar keinginan mereka untuk bersekolah, seusai mengumpulkan barang – barang bekas dari rumah ke rumah, dari jalan ke jalan, keinginan mereka yang belum tercapai dapat sedikit tersalurkan melalui jendela sebuah sekolah. Setiap harinya, seusai mereka berkeliling kota bersama Kakek yang merupakan orang tua tunggal mereka.

“Kakek, Gisa haus.” Ujarnya dari dalam gerobak sampah yang didorong oleh Kakek.
Kakek hanya terdiam, menatap bibir cucu bungsunya yang nampak kering dan dahaga. Kakek meraba kantung celananya yang usang, ditemukannya selembar uang seribu rupiah, “Alhamdulillah, sebentar ya Cu,” ujar Kakek meninggalkan mereka ke warung di seberang.

Kakek kembali membawa dua gelas air mineral, “Maaf ya sayang, Kakek hanya bisa beli air mineral.” Gani dan Gisa menyambut dengan semangat dua gelas air yang dibawakan Kakek, dengan tangan-tangan kecil mereka yang penuh tanah dan debu. Setelah meminumnya sedikit, Gisa melihat Kakek duduk kelelahan di samping gerobak mereka.

“Kakek ngga haus?” tanya Gisa. Kakek hanya tersenyum dan menggeleng, lantas Gani menghampiri Kakek  dan duduk disampingnya. Memberikan setengah dari apa yang ia minum, “Kakek jangan bohong, Kakek pasti haus. Kata Kakek kan bohong itu dosa” ujar Gani kemudian.

Kakek tersenyum, nampak wajahnya ingin sekali memeluk kedua cucunya dan tidak melepaskannya lagi. “Pintar sekali cucu kesayangan Kakek ini. Gani harus jadi laki-laki yang berhasil, dan bisa beliin Gisa boneka beruang besar yang kemarin kita lihat di depan mall.” Kakek mengusap kepala Gani.

“Gani juga mau kasih Kakek hadiah!”

“Gisa juga mau berhasil dong, Kek. Biar bisa sekolah, nanti jadi guru deh.” Sambung Gisa sembari melompat keluar dari gerobak. Baju yang lusuh tidak mengurangi semangat Gisa.

“Oh! Harus itu! Gisa dan Gani harus sekolah suatu saat nanti, harus jadi ‘orang’, biar kalian ngga hidup seperti Kakek, bahkan Ayah kalian.” Ujar Kakek yang menatap sedih ke jalanan.

Gisa berpindah ke pangkuan Kakek, “Kek, emangnya kenapa sih dulu Ayah ngga sekolah?” tanyanya polos. “Iya Kek, kenapa Ayah ngga sekolah” tambah Gani kemudian.

Kakek tersenyum dan mulai bercerita tentang ayah mereka. “Sebenernya itu salah Kakek, Cu. Dulu Kakek ngga punya uang untuk biayain Ayah sekolah. Ayah juga ngga mau sekolah saat itu. Dia lebih memilih buat main dan cari uang, ngamen, mulung, sama kaya Kakek”

“Tapi Bibi Anis bilang sama Gisa kalau dulu Kakek sekolah?”

“Kakek sempat sekolah, sampai lulus SMP, Gisa, Gani. Jaman Kakek dulu bisa masuk SMP itu udah hebat loh. Ngga semua orang bisa sekolah sampai SMP. Terus, Kakek dulu kerja jadi office boy di kantor gede. Tapi karena Kakek sudah berumur dan cuma lulusan SMP, Kakek diberentiin kerja deh.” Kakek terdiam sejenak. “Setelah dewasa, Ayah kalian kerjanya main judi, nyopet, pokoknya cari uang cara gampang. Apes waktu itu Ayah ditangkap warga, dan….. yaah…. Makanya Kakek punya cita-cita buat sekolahin kalian sampai setinggi mungkin. Kalian mau kan?”

Kedua kakak-beradik ini menyeringai, “MAU!” ujar mereka bersamaan dengan penuh semangat.


Malam itu Kakek kembali ke gubuk tua mereka. Wajah Kakek nampak sangat kelelahan, dan nampak kantung mata yang mengendur karena usia kini berubah warna menjadi gelap. Rambutnya yang mulai putih juga lusuh terkena hujan yang mulai mongering. Gisa melihat bagaimana lelahnya Kakek, dan kembali menghampiri Kakek dengan membawa segelas air putih hangat. “Kakek, kok beberapa bulan ini pulangnya larut malam terus sih?” tanya Gisa.

“Kakek kan cari botol-botol, sayangku. Kamu sendiri belum tidur? Ayo tidur, istirahat. Temani abangmu di dalam ya. Mau hujan ini.” Setelah Gisa masuk, Kakek merebahkan dirinya pada sebuat papan yang hanya berselimutkan tumpukan kertas koran yang sudah usang.

Rutinitas kembali mereka lakukan keesokan harinya. Usai memulung, bel sekolah berbunyi, tanda sekolah siang telah masuk, Gani dan Gisa bergegas menuju sekolah tersebut. Seperti biasa mereka memperhatikan proses belajar dari balik jendela ruang kelas. Tak disangka, kepala sekolah yang sedari  tadi memperhatikan mereka, menghampiri Gani dan Gisa, yang hampir membuat mereka akan berlari ketakutan.

“Hey, nak. Jangan pergi, sini. Gak apa-apa kok.” Panggil kepala sekolah itu. “kalian benar-benar niat untuk belajar?” tanyanya lagi.

Gani dan Gisa hanya mengangguk kebingungan. Masih nampak ketakutan pada wajah mereka. “Jangan takut ya, Bapak mau kasih kalian soal-soal sekolah, nih. Ayo, ikut Bapak ke kantor.” Sambut kepala sekolah dengan ramahnya. Setibanya di kantor kepala sekolah, ia langsung memberikan beberapa lembar soal untuk mereka. Dengan cekatan Gani dan Gisa mengerjakan soal-soal tersebut. Kepala sekolah mengawasi pekerjaan mereka hingga selesai. Lantas ia tersenyum melihat hasil pekerjaan mereka. “Mulai besok, kalian boleh datang ke kantor Bapak, saya akan berikan soal-soal latihan untuk kalian. Kalau kalian bingung, boleh tanya Bapak.”

“Terima kasih ya, Pak” mereka menyalami tangan kepala sekolah lalu kembali memulung. Sesampainya di tempat Kakek memulung, Gisa dan Gani menceritakan apa yang baru mereka alami. Kakek nampak senang mendengarnya. Mereka juga menceritakan bagaimana murid dalam kelas menghina mereka dengan mengatakan “Bu, ada gembel diluar jendela!” yang membuat mereka, terutama Gisa cukup sedih. Namun, Gani tetap menguatkan Gisa dengan merangkulnya dan membawanya pergi dari sana.
Dua bulan mereka lalui dengan rutinitas baru, yaitu menemui Bapak Kepala Sekolah setiap siang selama kurang lebih satu jam lamanya. Sampai pada akhirnya, Kakek memutuskan menemui Kepala Sekolah yang baik hati itu. Percakapan mereka cukup lama, dan Kepala Sekolah membahas mengenai pekerjaan Gani dan Gisa yang selama ini dinilai cukup baik. Kakek keluar ruangan dan memberikan mereka dua pasang seragam sekolah baru. Gani dan Gisa melonjak kegirangan mengetahui mulai siang itu mereka dapat bersekolah disana, sesuai dengan keinginan mereka yang besar selama ini. Mereka tidak meninggalkan pekerjaan mereka membantu Kakek. Berganti-gantian, Gani membantu Kakek pada pagi hari dan Gisa di siang harinya.

Ternyata dunia sekolah tidak sepenuhnya sesuai dengan apa yang mereka bayangkan, berbagai hinaan datang dari beberapa siswa yang berasal dari keluarga yang sangat jauh dari kehidupan Gani dan Gisa.

“Jangan! Jangan lempar sepatu Gisa!” teriaknya sambil menangis ketakutan. Terlambat sudah. Siswa-siswa jahil itu telah melempar sepatu Gisa ke dalam danau kecil di belakang sekolah. Gisa menangis sesenggukan dan berjalan pulang ke gubuk Kakek. 

Tak banyak yang dapat Gani, Gisa, dan Kakek perbuat. “Kakek punya sedikit rejeki, mungkin cukup untuk beli sepatu Gisa. Tapi Kakek ngga bisa beliin yang bagus, Cu.” Gisa terdiam masih meratapi kejadian tadi siang. “Gani gak apa-apa kalo Kakek hanya beliin Gisa?”

Gani lantas tersenyum, “Ngga kok Kek, sepatu Gani masih bisa dipakai kok”.

Kakek mengurungkan niatnya membeli beberapa obat untuk sakit batuknya yang tidak kunjung sembuh setahun terakhir ini. Demi melihat Gisa tersenyum.

Keesokan harinya, Kakek menuju sebuah pasar kecil yang menjual sepatu-sepatu bekas. Kakek memilihkan sebuah sepatu berwarna hitam dengan garis kecil berwarna pink, warna kesukaan Gisa. Namun, sedih nampak di wajah Kakek menyadari bahwa sepatu tersebut bukanlah sepatu baru. Dan hanya itu yang mampu Kakek beli. Kakek berjalan meninggalkan pasar dan kembali memulung, searah dengan tempat Kakek, Gisa, Gani, dan beberapa rekan Kakek beristirahat. Sesak mulai dirasakan Kakek yang akhirnya memutuskan beristirahat. Sapaan hangat beberapa rekan menyambut kedatangan Kakek. Dengan bangganya Kakek menceritakan sedikit tentang cucu-cucu kesayangannya.

“Kek, dari mana? Seneng banget nih mukanya?” goda salah seorang pedagang minuman di tempat itu.

“Woh jelas aku senang. Lihat ini!” Kakek menunjuk sepatu yang baru saja ia beli “Biar bekas tapi bagus kan?”

“Wah bagus Kek, buat si kecil ya?” tanya pemulung lainnya

“Pasti dong. Cucu-cucuku sekarang sekolah. Gani itu pintar seperti Ibunya. Kalau Gisa, dia bawel sekali, selalu mau belajar, seperti Neneknya” ujar Kakek yang tiba-tiba mengenang masa lalu.

“Wah bagus ya Kek, biar sukses mereka berdua. Biar ngga kaya Kakeknya ya, hahaha.” Goda pemulung lainnya.

Kakek tertawa bahagia. Sedikit bersenda gurau, Kakek merasakan sesak napas dan batuk tidak berhenti. Kakek kehilangan kesadaran. Seluruh pemulung, penjual minuman, sangat terkejut, dan langsung membawanya ke Puskesmas  terdekat.

Sepulangnya Gani dan Gisa dari sekolah, betapa terkejutnya mereka melihat gubuk tua mereka ramai dipenuhi tetangga dan rekan-reka Kakek. Gani tidak menghiraukan bendera kuning tergantung tepat depan gubuk tua mereka. Gani menangis sejadi-jadinya mendapati Kakek mereka, yang merupakan orang tua mereka satu-satunya terbaring tak bernyawa, telah pergi meninggalkan si kecil kesayangan Kakek. Bibi Anis, tetangga terdekat mereka, memeluk Gani dan Gisa yang menangis merengek memohon Kakek agar kembali bersama mereka, memangkunya, membacakan dongeng sebelum tidur, mencium kening mereka sebelum mereka berangkat dan akan tidur.

“Gisa, Kakek kamu bawa sepatu ini untuk kamu. Kakek pasti berharap kamu pakai sepatu ini ke sekolah. Biar semangat sekolahnya” ujar Bibi Anis menitihkan air mata. “Gani, Kakek nitipin kertas ini buat kamu.” Secarik kertas diberikan pada Gani.

“Adikmu akan selalu membutuhkanmu. Kakek yakin kamu akan selalu melindungi dan mencintainya seperti Kakek mencintai kalian berdua…”

Bertahun-tahun sudah berlalu. Gani dan Gisa telah tumbuh besar dan mengarungi samudera kehidupan yang amat keras. Kini, Gani dan Gisa berdiri di samping makam Kakek, juga Nenek, Ibu, dan Ayahnya yang telah dipugar dengan baik oleh mereka.

“Kakek, Gisa dan Abang Gani datang lagi. Gisa cuma mau cerita, Gisa baru pulang dari wisudaan, Kek. Lega rasanya lulus. Gisa seneng, andai aja Kakek, Nenek, Ibu, dan Ayah ada disana. Gisa akan jadi guru, Kek! Sesuai janji Gisa sama Kakek, Gisa akan jadi guru buat anak-anak seperti Gisa dan Abang Gani dulu. Terima kasih ya Kakek selalu jadi inspirasi dan motivasi Gisa” ujarnya di depan nisan bertuliskan nama Kakek mereka.

Gani mengelus rambut adiknya, “Kek, Gani sekarang bisa beliin Gisa boneka. Bahkan lebih bagus dari boneka yang dulu kita liat. Gani juga dulu janji sama Kakek, Gani akan kasih Kakek hadiah. Semoga ini jadi hadiah yang terbaik untuk Kakek, yaitu kelulusan Gisa dan diterimanya Gani di Rumah Sakit besar di kota, Gani akan mulai praktek minggu depan, Kek!”

“Ini hadiah untuk Kakek…”

No comments:

Post a Comment