Monday, April 1, 2013

Kita Berbeda

Sepenggal kisah dari masa lampau...

Berawal dari rasa iseng dan rasa ingin tahu, apa kabar dia sekarang? Hampir tiga tahun berlalu semenjak kudengar kabar terakhirnya. Aku sudah lagi tidak memiliki alamat rumahnya disana, tidak memiliki nomor teleponnya, bahkan jejaring sosial pun tidak. Namun, rasa ingin tahu yang tinggi membuatku nekat membuka account jejaring sosialnya. Tepat update paling akhir darinya adalah “HBD for someone out there” tepat di hari ulang tahunku yang telah berlalu, lebih dari enam bulan.

Di hari itu, aku masih mengingat bagaimana pertemuan kami terjadi. Pahit memang mengenang masa lalu yang kurang baik. Aku enggan menyebut itu semua hal yang pahit, karena semuanya telah terjadi dan atas pilihanku.

Aku, yang pada saat itu masihlah labil, kusebut ini semua sebagai masa ‘percobaan’ hidup, yang hidup dalam dunia yang tidak pernah diharapkan kedua orang tuaku akan dialami anak mereka jika mereka mengetahuinya, bahkan membayangkannya pun enggan. Dunia yang cukup keras, walaupun masih banyak yang jauh lebih dari ini semua diluar sana.

Masih terbayang bagaimana ruangan itu begitu putih, kosong, dingin, dan botol – botol minuman beralkohol berserakan disana. Beberapa wajah nampak asing tak kukenal, hanya beberapa nama yang kukenal namun tak cukup baik. Aku belum juga tersadar akan niat buruk mereka yang terpancar dari sorot mata mereka memandangiku ujung rambut sampai kaki. Aneh memang. Aku melihat tatapan itu, aku merasakan arti tatapan itu, namun tak juga kusadari kalau mungkin itu akan menjadi kesalahan karena aku, berada di ruangan itu, pada sore menjelang malam itu. Mata – mata nakal mereka membuatku cukup tak nyaman. Tetapi, kurasakan satu mata tertuju padaku, tatapan hangat tanpa niat buruk. Aku tidak mengenalnya, sama sekali tidak.

Tangannya terjulur depan mataku menyebutkan namanya, lamunanku sirna dalam sekejap. Sosoknya terlihat sangat keras dibalik kalimat – kalimatnya yang terlontar lembut. Perawakannya yang keras sangat menunjukkan dari etnis mana ia berasal. Ia tidak tampan, hanya saja aku nyaman berbincang dengannya.
Ya, malam ini terasa sangat kacau seiring dengan kepalaku yang semakin terasa berat. Bertambahlah sudah dosaku malam ini. Perasaan bersalahku tak bertahan lama, seiring dengan obrolan kami yang menyelamatkanku dari niat-niat ‘mereka’ yang jahat padaku. Malam ini usai dengan kesediaannya mengantarkanku hingga depan pintu rumahku. Tak ada rayuan dan kata-kata nakal selama percakapan kami berlangsung. Hanya satu hal yang kuingat malam itu, matanya menoleh padaku saat aku akan memasuki pintu rumah bersamaan dengan senyum seakan mengucap ‘selamat malam’. Mungkin hanya perasaanku, tapi itu yang terjadi. Kuanggap hanya angin lalu, karena kerap kutemui lelaki yang entah dimana perasaan mereka berada yang melakukan hal sama dan berujung luka. Aku sudah maklum, aku sudah penat.

ɷ

Cahaya pagi menyambut mataku untuk terbuka, terasa perih mengingat mataku hanya terpejam pulas selama tiga jam saja. Aku harus kembali sekolah. Rutinitas terjadi mulai dari aku bangkit dari tempat tidur. Pikiranku melayang kemanapun perginya yang kemudian buyar melihat rangkaian huruf dalam ponsel, pesan singkat memberiku sedikit senyum dan kejanggalan pagi itu.

“Selamat pagi. Maaf ga ada maksud lancang hubungin duluan, wanna say thank you buat semalam :)”

Shocked? Yeah, sedikit. Terutama ketika melihat siapa yang menuliskan itu. Pikiran kedua adalan, dari mana ia bisa menghubungiku. Kemudian, apa yang ia inginkan. Seperti biasa si bodoh dalam otakku tidak mau pusing memikirkan hal-hal tersebut. Hanya untuk menjalin hubungan baik dengan orang lain, apa salahnya. Salahnya, ketika kebodohanku bisa terulang lagi. Kecewa, sakit, dan ditinggalkan.

Hari berlalu cepat, aku tidak menganggap satupun mereka yang menjalin komunikasi denganku adalah orang yang special. Ketika aku merasa nyaman, komunikasi terasa benar, dan baik-baik saja. Namun, dari mana datangnya rasa nyaman itu? Untuk pertama kalinya setelah malam itu, aku bertemu lagi dengannya. Hanya sekedar makan pinggir jalan, berbincang ringan, ia sangat nampak berusaha mengenalku lebih dalam. Sesingkatnya, beberapa hari setelahnya ia berusaha menjalin sesuatu yang lebih denganku. Sekali lagi, apa salahnya.

Satu hal yang kami saling ketahui dan kami saling tak sadari. Perbedaan.

Sebulan, dua bulan, terasa manis. Terasa indah sebagaimana remaja seusia kami, yang hanya terpaut dua tahun perbedaan, menjalani hari-hari bersama. Walaupun tidak setiap hari, ia nampak gemar berhadapan dengan gerbang sekolahku bersama sepeda motor butut kesayangannya, menantiku keluar menghampirinya, disambutnya aku dengan senyumnya. Aku tak pernah peduli dengan apa ia menjemputku, bahkan berjalan kaki pun aku sangat senang. Mindset dalam diriku berubah perlahan, menjadi sebuah kebiasaan melalui hari bersama-sama, dan terasa ada yang hilang jika tidak melihatnya. Berlebihan memang, orang-orang mengatakan inilah jatuh cinta. Cinta monyet? Ya, mungkin. Kami masih muda, mungkin yang orang dewasa katakana ini benar sebagai cinta monyet yang mereka katakan itu.

Ada hal yang terasa sedikit berubah. Awalnya, aku berpikir bahwa ini hanya masa peralihan dari manisnya awal hubungan ke masa jenuh. Tapi apakah benar, kejenuhan datang di masa seumur jagung? Pertanyaan – pertanyaan kerap menggangguku. Mengapa ia jarang menghubungiku, apakah ada orang lain, mengapa ia menghindariku, apakah ia mulai lelah. Aku bersedia menjumpainya di sekitar lingkungannya, mengapa ia menghindar? Kukumpulkan keberanianku mengutarakan perasaan – perasaan aneh dipikiranku ini. Tiga bulan sudah cukup bagiku mengenal wataknya yang keras dan tegas seperti lingkungan dari mana ia dibesarkan. Dan begitu terkejutnya aku mendengar pernyataannya.

“Tiga bulan bukan waktu yang lama, bukan juga sebentar. Aku udah cukup mengenal kamu, terbiasa hari-hariku terisi sama kamu. Memang benar, sebelum aku mengenal kamu, ada perempuan lain dalam statusku, malam kita tepat dua bulan sama-sama. Aku minta maaf, aku ngga bermaksud jahat, aku memilih kamu…”

Perasaanku begitu terguncang mendengarnya. Selama ini aku percaya pada kebohongan? Ia begitu manis memperlakukanku seakan ia akan bersamaku selamanya.

“… tapi satu hal yang kita anggap kecil dan sama-sama terlupakan. Kita beda. Kita beda dalam beberapa hal kecil dan besar. Kita beda usia, jelas. Kita beda etnis, jelas. Kita beda latar belakang lingkungan, jelas. Dan kita beda keyakinan. Sama-sama kita paham dan tau, keyakinan kita, dari diri masing-masing maupun keluarga, adalah hal terkuat yang kita punya. Keluargaku tau semua tentang kamu, walaupun aku berusaha memperkenalkan kamu kepada mereka.”
Aku sedih, sangat sedih. Merasa menjadi perempuan paling terpuruk saat itu. Tetapi, kalaupun ini semua harus berakhir, untuk alasan yang tepat aku bersedia. Namun sorot mata berkaca-kaca yang nampak di matanya membuatku tidak mengerti apa yang akan terjadi setelah ini.

“Ini memang baru seumur jagung, but… I love you”

Satu hal yang sebelumnya aku tidak pernah lihat kecuali pada film dan televisi, seorang lelaki menitihkan air mata dan berusaha ia sembunyikan.

I will protect you, I promise”

ɷ

Hubungan kami berubah cukup drastis. Tidak ada lagi bertemu setiap hari, tidak ada lagi bebas berkomunikasi kapanpun dan dimanapun. Sampai pada akhirnya keputusan seorang ayah telah dijatuhkan, untuk membiarkan anak lelaki satu-satunya tinggal di kota asalnya, Medan. Kami terpisah kota, kami terpisah daratan. Tidak pernah satu malam pun terlewatkan tanpa tangisanku menyambut suara lembutnya di telepon. Kalimat – kalimat yang selalu ia berikan, bertujuan membangkitkan semangatku. Aku mengetahui kebenciannya melihat dan mendengarkan aku menangis, namun tak kuasa kutahan saat mendengar suaranya. Perasaan takut kehilangan saling kami rasakan. Tentu saja perseteruan dan perdebatan kecil kerap ada di tengah hubungan kami. Perlahan, kekuatan rasa percaya mulai terkikis.

Aku terlalu mendramatisir keadaan seakan kami akan dipisahkan selamanya. Namun, Tuhan masih mengizinkan kami bersama. Hanya dua bulan ia bertahan di sana. Kami telah melalui enam bulan bersama-sama, mungkin ini masih usia yang cukup muda. Walaupun masih terasa berbeda, seperti awal hubungan kami yang manis, kepulangannya ke Jakarta tidak mengubah banyak hubungan kami. Semakin buruk yang kurasakan, kami mencuri waktu pada malam hari bahkan menjelang pagi hanya untuk saling melihat wajah kami, dan terpisahkan oleh gerbang pagar rumah.

Lima belas bulan berlalu dengan berat. Terasa begitu lambat saat kami tidak bersama, dan terasa begitu singkat saat kami berjumpa. Terkadang, untuk beberapa hal aku merasa ini tidak adil. Perasaan ingin memiliki kisah yang ‘normal’ seperti mereka disekelilingku selalu muncul di benakku. Berbagai tekanan terjadi dari pihak keluarganya dan mereka yang ada di sekelilingnya, kuterima dengan berusaha berlapang dada. Seperti kesabarannya tak pernah terputus saat membela dan menerima semua tentang aku, baik dan buruknya aku, salah dan benarnya aku, bahkan menerima lontaran kalimat hinaan yang terlontar untukku karena masa laluku. Aku sudah bosan mendengarkan sahabat-sahabatku berkata "sudahlah akhiri saja". Dan ia tetap menjagaku sesuai dengan janjinya.

Untuk kedua kalinya, kami harus terpisah. Awalnya memang berat, namun kami pernah mengalaminya. Ia selalu meyakinkan aku kalau segalanya akan berjalan dengan baik bersama dengan kesabaran dan keikhlasan kami. Seperti setiap malam kuterima kalimat manis yang menyemangatiku di keesokan harinya, saat aku terbangun dari tidurku. Rasa kepercayaan mulai terkikis kembali. Aku membiarkannya bebas diluar sana, termasuk membiarkannya mencari pengganti kehadiranku disana. Aku enggan menyebutnya berselingkuh karena aku pun mengetahui dan mengizinkan hal itu, walaupun tidak bertahan lama. Ia selalu mengeluhkan dan memandang perbedaan wanita itu dengan aku disini. Kami sadar, kami takut saling kehilangan.

Di sisi lain, dengan segala alasannya selama ini, ia berusaha meninggalkanku dengan menyakiti hatiku, dan ia tak pernah berhasil melakukannya. Satu hal ia menyatakan semua ini sudah berubah dan tidak ada lagi cinta. Dalam hal lain ia menangisi kalimatnya tadi dan berusaha kuat agar aku tidak mengetahuinya.

Aku tak lagi menjadi perempuan nakal dan hidup di dunia liar seperti pertama kali ia menemukanku. Ia mengangkatku dari sebuah jurang yang curam, menarik tanganku dan mengangkatku keluar dari gelapnya jurang itu. Menemani langkahku menemukan jalan hidup yang lebih baik dan segala pelajaran kedewasaan yang kami hadapi bersama. Aku tidak sempurna, begitupun ia. Dan kami tidak akan menjadi sempurna. Memang benar mungkin sepatah kalimat dalam sebuah lagu, Tuhan memang satu, kita yang tak sama. Perbedaan memang indah, bagi kami. Tetapi tidak untuk beberapa dari mereka. Segala perbedaan ini menyatukan kami, memberi kami hidup yang baru. Dibalik segala rasa sakit dan kekecewaan yang sama-sama kami rasakan, ia tetap menjadi seseorang yang tidak akan pernah terhapus dari memoriku.

”Perbedaan sesungguhnya adalah hal yang sangat indah. Perbedaan adalah hal yang menyatukan dua dan lebih insan manusia. Namun,perbedaan tidak akan menjadi indah bila mereka yang berada di dalamnya tidak memahami dengan baik seperti apa perbedaan yang terjadi. Jika disana kau melangkah untuk membencinya, disini ia menangis atas keputusan bulat yang ia ambil. Dan ia akan selalu menyesali akhir kisah kalian dengan cara yang sangat tidak ia inginkan. Kalimat ini klise tapi kamu harus percaya, tidak ada yang tidak mungkin terjadi dan kalau kalian memang ditakdirkan bersama akan selalu ada jalan untuk kembali.” Inilah kalimat yang terakhir yang kuingat dari seorang sahabat dan kerabat, satu-satunya, yang selalu menyemangati langkah kami. “Hidupmu tidak berakhir disini…”

Tak ada lagi sepasang tangan manusia dengan posisi yang berbeda sebelum memulai makan. Tak ada lagi peringatan pagi buta untukku menjalankan ibadah dan hari minggu-ku menanti menantinya kembali beribadah. Waktu berlalu, dan perpisahan kami menjadi lebih dari apa yang kami rasakan sebelumnya. Aku selalu menantinya pulang, bahkan menjelang natal, aku berharap ia kembali ke rumah untuk merayakannya, namun ia tak kunjung kembali. Tuhan tidak mengambil jiwanya dari hidupku, Tuhan hanya mengambil raga dan kabarnya dariku.

Entah apa jawaban Tuhan, perpisahan kah? Mungkinkah Tuhan mengirimkannya untuk menarik tanganku keluar dari jurang curam itu? Atau Tuhan memang menginginkan kisah kami sebagai batu loncatan kehidupan, memberikan pengalaman dan warna hidup untuk menjadikan kami semakin dewasa di kemudian hari, dan mungkin memberikan sedikit kisah indah untuk diceritakan pada anak-anak kami kelak.


Diadaptasi dari sebuah kisah seorang wanita, dengan sedikit pengubahan.

No comments:

Post a Comment