Sepenggal kisah dari masa lampau...
Berawal
dari rasa iseng dan rasa
ingin tahu, apa kabar dia sekarang? Hampir tiga tahun berlalu semenjak kudengar
kabar terakhirnya. Aku sudah lagi tidak memiliki alamat rumahnya disana,
tidak memiliki nomor teleponnya, bahkan jejaring sosial pun tidak. Namun, rasa
ingin tahu yang tinggi membuatku nekat membuka
account jejaring sosialnya. Tepat update paling
akhir darinya adalah “HBD for someone out
there” tepat di hari ulang tahunku yang telah berlalu, lebih dari enam
bulan.
Di hari itu, aku masih mengingat
bagaimana pertemuan kami terjadi. Pahit memang mengenang masa lalu yang kurang
baik. Aku enggan menyebut itu semua hal yang pahit, karena semuanya telah
terjadi dan atas pilihanku.
Aku, yang pada saat itu masihlah
labil, kusebut ini semua sebagai masa ‘percobaan’ hidup, yang hidup dalam dunia
yang tidak pernah diharapkan kedua orang tuaku akan dialami anak mereka jika
mereka mengetahuinya, bahkan membayangkannya pun enggan. Dunia yang cukup
keras, walaupun masih banyak yang jauh lebih dari ini semua diluar sana.
Masih terbayang bagaimana ruangan
itu begitu putih, kosong, dingin, dan botol – botol minuman beralkohol
berserakan disana. Beberapa wajah nampak asing tak kukenal, hanya beberapa nama
yang kukenal namun tak cukup baik. Aku belum juga tersadar akan niat buruk
mereka yang terpancar dari sorot mata mereka memandangiku ujung rambut sampai
kaki. Aneh memang. Aku melihat tatapan itu, aku merasakan arti tatapan itu,
namun tak juga kusadari kalau mungkin itu akan menjadi kesalahan karena aku,
berada di ruangan itu, pada sore menjelang malam itu. Mata – mata nakal mereka
membuatku cukup tak nyaman. Tetapi, kurasakan satu mata tertuju padaku, tatapan
hangat tanpa niat buruk. Aku tidak mengenalnya, sama sekali tidak.
Tangannya terjulur depan mataku
menyebutkan namanya, lamunanku sirna dalam sekejap. Sosoknya terlihat sangat
keras dibalik kalimat – kalimatnya yang terlontar lembut. Perawakannya yang
keras sangat menunjukkan dari etnis mana ia berasal. Ia tidak tampan, hanya
saja aku nyaman berbincang dengannya.
Ya, malam ini terasa sangat kacau
seiring dengan kepalaku yang semakin terasa berat. Bertambahlah sudah dosaku
malam ini. Perasaan bersalahku tak bertahan lama, seiring dengan obrolan kami
yang menyelamatkanku dari niat-niat ‘mereka’ yang jahat padaku. Malam ini usai
dengan kesediaannya mengantarkanku hingga depan pintu rumahku. Tak ada rayuan
dan kata-kata nakal selama percakapan kami berlangsung. Hanya satu hal yang
kuingat malam itu, matanya menoleh padaku saat aku akan memasuki pintu rumah
bersamaan dengan senyum seakan mengucap ‘selamat malam’. Mungkin hanya
perasaanku, tapi itu yang terjadi. Kuanggap hanya angin lalu, karena kerap
kutemui lelaki yang entah dimana perasaan mereka berada yang melakukan hal sama
dan berujung luka. Aku sudah maklum, aku sudah penat.
ɷ
Cahaya pagi menyambut mataku
untuk terbuka, terasa perih mengingat mataku hanya terpejam pulas selama tiga
jam saja. Aku harus kembali sekolah. Rutinitas terjadi mulai dari aku bangkit
dari tempat tidur. Pikiranku melayang kemanapun perginya yang kemudian buyar
melihat rangkaian huruf dalam ponsel, pesan singkat memberiku sedikit senyum
dan kejanggalan pagi itu.
“Selamat
pagi. Maaf ga ada maksud lancang hubungin duluan, wanna say thank you buat
semalam :)”
Shocked? Yeah, sedikit. Terutama ketika melihat siapa yang
menuliskan itu. Pikiran kedua adalan, dari mana ia bisa menghubungiku.
Kemudian, apa yang ia inginkan. Seperti biasa si bodoh dalam otakku tidak mau
pusing memikirkan hal-hal tersebut. Hanya untuk menjalin hubungan baik dengan
orang lain, apa salahnya. Salahnya, ketika kebodohanku bisa terulang lagi.
Kecewa, sakit, dan ditinggalkan.
Hari berlalu cepat, aku tidak
menganggap satupun mereka yang menjalin komunikasi denganku adalah orang yang special. Ketika aku merasa nyaman,
komunikasi terasa benar, dan baik-baik saja. Namun, dari mana datangnya rasa
nyaman itu? Untuk pertama kalinya setelah malam itu, aku bertemu lagi
dengannya. Hanya sekedar makan pinggir jalan, berbincang ringan, ia sangat
nampak berusaha mengenalku lebih dalam. Sesingkatnya, beberapa hari setelahnya
ia berusaha menjalin sesuatu yang lebih denganku. Sekali lagi, apa salahnya.
Satu hal yang kami saling ketahui
dan kami saling tak sadari. Perbedaan.
Sebulan, dua bulan, terasa manis.
Terasa indah sebagaimana remaja seusia kami, yang hanya terpaut dua tahun
perbedaan, menjalani hari-hari bersama. Walaupun tidak setiap hari, ia nampak
gemar berhadapan dengan gerbang sekolahku bersama sepeda motor butut kesayangannya, menantiku keluar
menghampirinya, disambutnya aku dengan senyumnya. Aku tak pernah peduli dengan
apa ia menjemputku, bahkan berjalan kaki pun aku sangat senang. Mindset dalam diriku berubah perlahan,
menjadi sebuah kebiasaan melalui hari bersama-sama, dan terasa ada yang hilang
jika tidak melihatnya. Berlebihan memang, orang-orang mengatakan inilah jatuh
cinta. Cinta monyet? Ya, mungkin.
Kami masih muda, mungkin yang orang dewasa katakana ini benar sebagai cinta monyet yang mereka katakan itu.
Ada hal yang terasa sedikit
berubah. Awalnya, aku berpikir bahwa ini hanya masa peralihan dari manisnya
awal hubungan ke masa jenuh. Tapi apakah benar, kejenuhan datang di masa seumur
jagung? Pertanyaan – pertanyaan kerap menggangguku. Mengapa ia jarang
menghubungiku, apakah ada orang lain, mengapa ia menghindariku, apakah ia mulai
lelah. Aku bersedia menjumpainya di sekitar lingkungannya, mengapa ia
menghindar? Kukumpulkan keberanianku mengutarakan perasaan – perasaan aneh
dipikiranku ini. Tiga bulan sudah cukup bagiku mengenal wataknya yang keras dan
tegas seperti lingkungan dari mana ia dibesarkan. Dan begitu terkejutnya aku
mendengar pernyataannya.
“Tiga bulan bukan waktu yang lama, bukan juga sebentar. Aku udah cukup
mengenal kamu, terbiasa hari-hariku terisi sama kamu. Memang benar, sebelum aku
mengenal kamu, ada perempuan lain dalam statusku, malam kita tepat dua bulan
sama-sama. Aku minta maaf, aku ngga bermaksud jahat, aku memilih kamu…”
Perasaanku begitu terguncang
mendengarnya. Selama ini aku percaya pada kebohongan? Ia begitu manis
memperlakukanku seakan ia akan bersamaku selamanya.
“… tapi satu hal yang kita anggap kecil dan sama-sama terlupakan. Kita
beda. Kita beda dalam beberapa hal kecil dan besar. Kita beda usia, jelas. Kita
beda etnis, jelas. Kita beda latar belakang lingkungan, jelas. Dan kita beda
keyakinan. Sama-sama kita paham dan tau, keyakinan kita, dari diri
masing-masing maupun keluarga, adalah hal terkuat yang kita punya. Keluargaku
tau semua tentang kamu, walaupun aku berusaha memperkenalkan kamu kepada
mereka.”
Aku sedih, sangat sedih. Merasa
menjadi perempuan paling terpuruk saat itu. Tetapi, kalaupun ini semua harus
berakhir, untuk alasan yang tepat aku bersedia. Namun sorot mata berkaca-kaca
yang nampak di matanya membuatku tidak mengerti apa yang akan terjadi setelah
ini.
“Ini memang baru seumur jagung, but… I love you”
Satu hal yang sebelumnya aku
tidak pernah lihat kecuali pada film dan televisi, seorang lelaki menitihkan
air mata dan berusaha ia sembunyikan.
“I will protect you, I promise”
ɷ
Hubungan kami berubah cukup
drastis. Tidak ada lagi bertemu setiap hari, tidak ada lagi bebas berkomunikasi
kapanpun dan dimanapun. Sampai pada akhirnya keputusan seorang ayah telah
dijatuhkan, untuk membiarkan anak lelaki satu-satunya tinggal di kota asalnya,
Medan. Kami terpisah kota, kami terpisah daratan. Tidak pernah satu malam pun
terlewatkan tanpa tangisanku menyambut suara lembutnya di telepon. Kalimat –
kalimat yang selalu ia berikan, bertujuan membangkitkan semangatku. Aku
mengetahui kebenciannya melihat dan mendengarkan aku menangis, namun tak kuasa
kutahan saat mendengar suaranya. Perasaan takut kehilangan saling kami rasakan.
Tentu saja perseteruan dan perdebatan kecil kerap ada di tengah hubungan kami.
Perlahan, kekuatan rasa percaya mulai terkikis.
Aku terlalu mendramatisir keadaan
seakan kami akan dipisahkan selamanya. Namun, Tuhan masih mengizinkan kami
bersama. Hanya dua bulan ia bertahan di sana. Kami telah melalui enam bulan
bersama-sama, mungkin ini masih usia yang cukup muda. Walaupun masih terasa
berbeda, seperti awal hubungan kami yang manis, kepulangannya ke Jakarta tidak
mengubah banyak hubungan kami. Semakin buruk yang kurasakan, kami mencuri waktu
pada malam hari bahkan menjelang pagi hanya untuk saling melihat wajah kami,
dan terpisahkan oleh gerbang pagar rumah.
Lima belas bulan berlalu dengan
berat. Terasa begitu lambat saat kami tidak bersama, dan terasa begitu singkat
saat kami berjumpa. Terkadang, untuk beberapa hal aku merasa ini tidak adil.
Perasaan ingin memiliki kisah yang ‘normal’ seperti mereka disekelilingku
selalu muncul di benakku. Berbagai tekanan terjadi dari pihak keluarganya dan
mereka yang ada di sekelilingnya, kuterima dengan berusaha berlapang dada.
Seperti kesabarannya tak pernah terputus saat membela dan menerima semua
tentang aku, baik dan buruknya aku, salah dan benarnya aku, bahkan menerima
lontaran kalimat hinaan yang terlontar untukku karena masa laluku. Aku sudah bosan mendengarkan sahabat-sahabatku berkata "sudahlah akhiri saja". Dan ia tetap menjagaku
sesuai dengan janjinya.
Untuk kedua kalinya, kami harus
terpisah. Awalnya memang berat, namun kami pernah mengalaminya. Ia selalu
meyakinkan aku kalau segalanya akan berjalan dengan baik bersama dengan
kesabaran dan keikhlasan kami. Seperti setiap malam kuterima kalimat manis yang
menyemangatiku di keesokan harinya, saat aku terbangun dari tidurku. Rasa
kepercayaan mulai terkikis kembali. Aku membiarkannya bebas diluar sana,
termasuk membiarkannya mencari pengganti kehadiranku disana. Aku enggan
menyebutnya berselingkuh karena aku pun mengetahui dan mengizinkan hal itu,
walaupun tidak bertahan lama. Ia selalu mengeluhkan dan memandang perbedaan
wanita itu dengan aku disini. Kami sadar, kami takut saling kehilangan.
Di sisi lain, dengan segala alasannya selama ini, ia berusaha meninggalkanku dengan menyakiti hatiku, dan ia tak pernah berhasil melakukannya. Satu hal ia menyatakan semua ini sudah berubah dan tidak ada lagi cinta. Dalam hal lain ia menangisi kalimatnya tadi dan berusaha kuat agar aku tidak mengetahuinya.
Aku tak lagi menjadi perempuan
nakal dan hidup di dunia liar seperti pertama kali ia menemukanku. Ia
mengangkatku dari sebuah jurang yang curam, menarik tanganku dan mengangkatku
keluar dari gelapnya jurang itu. Menemani langkahku menemukan jalan hidup yang
lebih baik dan segala pelajaran kedewasaan yang kami hadapi bersama. Aku tidak
sempurna, begitupun ia. Dan kami tidak akan menjadi sempurna. Memang benar
mungkin sepatah kalimat dalam sebuah lagu, Tuhan
memang satu, kita yang tak sama. Perbedaan memang indah, bagi kami. Tetapi
tidak untuk beberapa dari mereka. Segala perbedaan ini menyatukan kami, memberi
kami hidup yang baru. Dibalik segala rasa sakit dan kekecewaan yang sama-sama
kami rasakan, ia tetap menjadi seseorang yang tidak akan pernah terhapus dari
memoriku.
”Perbedaan sesungguhnya adalah hal yang sangat indah. Perbedaan adalah
hal yang menyatukan dua dan lebih insan manusia. Namun,perbedaan tidak akan
menjadi indah bila mereka yang berada di dalamnya tidak memahami dengan baik
seperti apa perbedaan yang terjadi. Jika disana kau melangkah untuk
membencinya, disini ia menangis atas keputusan bulat yang ia ambil. Dan ia akan
selalu menyesali akhir kisah kalian dengan cara yang sangat tidak ia inginkan. Kalimat
ini klise tapi kamu harus percaya, tidak ada yang tidak mungkin terjadi dan
kalau kalian memang ditakdirkan bersama akan selalu ada jalan untuk kembali.”
Inilah kalimat yang terakhir yang kuingat dari seorang sahabat dan kerabat,
satu-satunya, yang selalu menyemangati langkah kami. “Hidupmu tidak berakhir disini…”
Tak ada lagi sepasang tangan
manusia dengan posisi yang berbeda sebelum memulai makan. Tak ada lagi
peringatan pagi buta untukku menjalankan ibadah dan hari minggu-ku menanti
menantinya kembali beribadah. Waktu berlalu, dan perpisahan kami menjadi lebih
dari apa yang kami rasakan sebelumnya. Aku selalu menantinya pulang, bahkan
menjelang natal, aku berharap ia kembali ke rumah untuk merayakannya, namun ia
tak kunjung kembali. Tuhan tidak mengambil jiwanya dari hidupku, Tuhan hanya mengambil
raga dan kabarnya dariku.
Entah apa jawaban Tuhan,
perpisahan kah? Mungkinkah Tuhan mengirimkannya untuk menarik tanganku keluar
dari jurang curam itu? Atau Tuhan memang menginginkan kisah kami sebagai batu
loncatan kehidupan, memberikan pengalaman dan warna hidup untuk menjadikan kami
semakin dewasa di kemudian hari, dan mungkin memberikan sedikit kisah indah
untuk diceritakan pada anak-anak kami kelak.
Diadaptasi dari sebuah kisah seorang wanita, dengan sedikit pengubahan.

No comments:
Post a Comment